Syahdan, seorang sufi besar
bernama Abu Bein Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya.
Ditengah-tengah cahaya itu, ia melihat sosok makhluk yang bersinar terang.
Ternyata ia adalah malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu Bein
bertanya, “Apa yang sedang engkau kerjakan?”
“Aku sedang mencatat daftar para
pecinta Tuhan”.
Abu Bein sangat berharap namanya
tercantum. Dengan cemas ia melongok daftar itu. Tapi kemudian ia gigit jari,
karena namanya tidak tercantum di situ.
Ia pun bergumam, “Mungkin aku
terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan. Sejak mala mini, aku ingin menjadi
pecinta manusia (karena ALLAH)”.
Esok harinya, ia terbangun lagi ditengah malam. Kamarnya
terang-benderang. Malaikat yang bercahaya itu kembali hadir. Abu Bein terkejut,
karena namanya terdaftar sebagai pecinta Tuhan di atas buku tersebut. Ia pun
bertanya, “Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia (karena
ALLAH)”
Malaikat itu berkata, “Baru saja
Tuhan berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bias mencintai Tuhan
sebelum kamu menciontai sesame manusia”.
Jadi cinta kepada ALLAH bisa
diwujudkan dalam bentuk cinta kepada sesama manusia. Misalnya, suka member
makan fakir miskin dan gemar menyantuni anak yatim seperti yang telah
dicontohkan ooleh para sahabat Nabi, seperti Abu Bakar ra, Abdurrahman bin Auf
ra dan sahabat lainnya. Bahkan, karena cintanya yang begitu mendalam kepada
ALLAH, mereka rela mengorbankan sebagian besar harta mereka dijalan ALLAH.
(Akhlak Hubungan Vertikal, 2008)
Bagikan tausiyah ini kepada
teman-temanmu dengan meng-klik ‘tombol share di bawah’